Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

ERDOGAN

ilust_1REPUBLIKA.CO.ID, Selama berpuluh tahun boleh dikatakan tak ada pemimpin dari negara-negara Muslim berani berkata “tidak” dan mengkritik  keras pemimpin Israel. Adalah Erdogan atau Recep Tayyip Erdogan yang berani melakukannya. 
Dalam sebuah konferensi internasional di Davos, Swiss, Januari  2009,  Perdana Menteri Turki itu  berani mengkritik Israel dengan pedas dan menuding pemimpinnya sebagai pemimpin yang licik dan pembohong, serta mengatakan Perdana Menteri Israel Simon Peres membunuh anak-anak dan wanita-wanita tak berdosa di  Gaza. 
Setelah berbicara, Erdogan walk out (meninggalkan) konferensi tersebut dan seluruh dunia  menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh Erdogan. Itulah salah satu contoh keberanian Perdana Menteri Turki yang dijuluki “Singa Kecil” dari Negara Abdul Hamid II—khalifah Muslim terakhir yang memimpin Kekhalifahan Utsmaniyah.  
Politisi yang dijuluki  sebagai “Muazin Istanbul Penumbang Sekularisme Turki” ini mampu mengembalikan masa keemasan Turki. Ia sukses  mengembalikan kejayaan bangsa Turki, baik dalam hal pertahanan maupun perekonomian.
Dengan keyakinan bahwa “Islam adalah solusi”, Erdogan mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan “The Sick Man in Europe”  menjadi negara yang sehat dan tumbuh berkembang, bahkan diperhitungkan sebagai negara yang mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia.
Buku ini memberikan gambaran yang cukup lengkap dan memadai mengenai sepak terjang Erdogan. Penulis mengawali bukunya dengan mengupas riwayat kehidupan Erdogan, sejak masa kecilnya di Qasim Pasha, pernikahannya, masuk penjara, dan mendirikan partai.  
Bab kedua memaparkan jalan politik Erdogan, antara lain, reformasi politik, revolusi atas pemikiran dan politik Kemal Attaturk, perbaikan masalah ekonomi, hingga penyelesaian masalah suku Kurdi.
Pada bab ketiga penulis mengupas langkah-langkah yang ditempuh Erdogan dalam penghancuran berhala sekularisme Attaturk. Salah satu pembahasan yang menonjol dalam bab ini adalah bagaimana Erdogan mampu mengatasi dan “menjinakkan” militer. 
Bab keempat menjabarkan revolusi  yang dilakukan Erdogan. Bab kelima menyajikan kupasan bertajuk “Dari impian Eropa menuju realita”.  Salah satu yang dibahas dalam bab ini adalah hubungan diplomatik dan kerja sama Turki dengan berbagai negara Arab. 
Bab keenam bertajuk “Dari persahabatan menjadi permusuhan” menceritakan berbagai ketegangan yang terjadi antara Turki dan Israel—yang pada awalnya bersahabat—sebagai respons atas ketegasan sikap Turki. Buku ini ditutup dengan beberapa dokumen dan gambar yang memuat pesan-pesan penting Erdogan.
Apakah rahasia sukses Erdogan? “Ia selalu menyelaraskan  antara iman, akhlak Islamiyah, dan selalu mengikuti  sunah Rasulullah SAW.” 
Di tengah langkanya tokoh masa kini yang layak jadi role model seorang pemimpin Muslim yang berani, jujur, peduli rakyat, dan tetap taat beragama, Erdogan merupakan tokoh yang layak diteladani. 
Buku ini sangat perlu dibaca terutama oleh para politisi, anggota legislatif, serta para pejabat dan aktivis, untuk belajar bagaimana menjadi pemimpin yang dicintai rakyat dan memberikan solusi. Tentu saja para mahasiswa yang merupakan calon pemimpin masa depan juga perlu membaca buku ini. 
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Irwan Kelana

IndonesiaTanpaLiberal

Indonesia Tanpa Liberal

Buku yang ditulis oleh mantan wartawan media Islam yang kini aktif sebagai dosen dan peneliti ini berupaya memberikan gambaran mengenai penyelewengan-penyelewengan pemahaman kelompok-kelompok liberal dari akidah Ahlusunnah wal Jamaah. 
Seperti diketahui, salah satu bahaya yang saat ini mengancam umat Islam, khususnya di Indonesia, adalah gerakan pemurtadan. 
Gerakan tersebut tidak hanya dilakukan oleh kelompok non-Muslim, tapi juga mereka yang mengaku Muslim, namun memiliki pemahaman dan akidah yang keluar dari prinsip-prinsip keislaman.
Penulis menegaskan, fenomena paham-paham yang merusak akidah Islam semakin marak dan berkembang di negeri ini. Mulai dari yang tidak masuk akal sampai yang seolah-olah dikemas dengan bungkus ilmiah. 
Di antara paham yang merusak itu adalah sekularisme, pluralisme, dan liberalisme yang biasa disingkat dengan sepilis. Paham ini adalah ideologi impor dari Barat yang kemudian berusaha dipasarkan dan dijajakan di negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia. Paham ini pada 2005 sudah difatwa haram oleh MUI karena bertentangan dengan akidah kaum Muslimin.
Di antara penyokong paham sepilis itu Jaringan Islam Liberal (JIL) yang meskipun jumlahnya sedikit, didukung oleh corong media nasional, dana, dan avokasi asing, bahkan alat kekuasaan. 
Dengan gaya tulisan jurnalistik yang mengalir, cair, dan mudah dipahami, penulis mengulas sepak terjang kelompok liberal, latar belakang berdiri, para aktivisnya, serta sejarah panjang kampanye pluralisme agama di nusantara yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Terutama, sejak orang-orang Eropa datang ke negeri ini bersamaan dengan kolonialisme yang kemudian memasarkan humanisme.
Judul bab-bab buku ini sangat menggoda. Sebut saja, fron liberal dari Utan Kayu, tersesat di jalur liberal, Ulil Abshar Abdalla dan doktrin Freemason, serta in Israel we trust. Bab-bab lainnya adalah JIL dan teosofi, para pionir pluralisme dan idola kaum liberal, dan Indonesia tanpa liberal yang dijadikan judul buku ini.
Masih ada sejumlah bab yang juga menggugah rasa ingin tahu pembaca, seperti Ahmadiyah proyek zionisme, zionisme dan propaganda adu domba, freemason di balik runtuhnya Khilafah Usmaniah, pengkhianatan kelompok sekuler menghapus Piagam Jakarta, pluralisme agama, Kartini dan para sahabat Yahudi.
Buku ini ditutup dengan pembahasan yang ringkas, namun padat tentang propaganda pluralisme agama di nusantara dan kaum teosofi. 
Note: Resensi buku ini dimuat di HU.Republika edisi 24 Juli 2012 dan Republika Online (ROL)