Kamis, 06 Juni 2013

Balita pun Bisa Hafal Alquran

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSLCBc8qOxkd7Vf53EAWmp8NkirFA1uCCfWV_Xre2Bp93kbik9rjoBqdhdd_vjr5M0H5JeEC5F3QpJS8AUmaOm2HXijMVIJKvmCAS2c4xM6fYsRPCWiUjRmesliB-3FxBs0Rjdg1BwSoo/s400/tanpa+bekground.OK.png

Belakangan ini dunia perbukuan Islam di Indonesia disemarakkan oleh kemunculan buku-buku yang mengambil tema hafalan Alquran. Bahkan ada sebuah buku yang judulnya sangat sensasional, 'Sebulan Hafal Al-Qur’an'. Seiring dengan itu, semakin banyak pula sekolah Islam yang memberikan penekanan terhadap tahfizhul Qur’an, khususnya sekolah-sekolah yang berlabel “terpadu”. Belum lagi pesantren-pesantren yang juga memberikan konsentrasi yang sama; tahfizhul Qur’an.
Dari sekian banyak buku yang mengusung tema ini, ada satu di antaranya yang sangat menarik, yaitu buku yang berjudul 'Balita pun Hafal Al-Qur’an', karya Salafuddin Abu Sayyid, seorang pengajar di STIQ (Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an) Isy Karima, Solo.
Buku yang sarat dengan inspirasi dan motivasi ini menyuguhkan kepada para pembaca tentang: bagaimana kisah anak belia yang akhirnya berhasil menjadi pengahafal Alquran (hafizh); bagaimana kisah keberhasilan para kakek dan nenek menjadi penghafal Alquran; keutamaan-keutamaan pengahafal Alquran serta berbagai keajaiban yang dialami oleh mereka.
Di antara sosok “para penjaga wahyu” yang diulas dalam buku ini adalah Tabarak dan Yazid Tamamuddin, kakak beradik yang tinggal di Jeddah, yang berhasil menjadi hafizh ketika masing-masing dari keduanya baru berusia 4,5 tahun (h. 1-17). Syaikh Dr Abdullah Bashfar, seorang qari’ ternama dan Ketua Umum Lembaga Internasional untuk Tahfizhul Qur’anil Karim, yang mewisuda Tabarak, setelah melalui ujian dan lulus menjadi hafizh paling belia. Pada tahun berikutnya giliran sang adik kandungnya, Yazid Tamamuddin, yang diwisuda sebagai hafizh dalam usia yang sama dengan kakaknya. Keduanya pun digelari sebagai “hafizh paling belia” sedunia versi lembaga tersebut. Gelar sebelumnya dipegang oleh Muhammad Ayyub dari Tajikistan, yang menjadi hafizh dan diwisuda saat berusia 5 tahun serta menjadi juara dalam musabaqah (lomba) hafalan Alquran sedunia.
Bukan hanya sosok Tabarak dan Yazid yang dibicarakan, tapi masih ada lagi sekian figur lainnya yang ditampilkan. Misalnya Abdullah Fadhil Asy-Syaqaq, si hafizh belia yang sudah dianugerahi gelar doktoral oleh The Islamic Civilization Open University Lebanon ketika baru berusia 7 tahun. Juga Abdurrahman Al-Fiqqi, seorang anak tuna netra yang hafizh Alquran dengan cara mendengar, hingga kisah Abdurrahman Farih, bocah berusia 3,5 tahun dari Aljazair yang luar biasa. Lika-liku para bocah brilian itu ditampilkan dengan begitu menarik dalam buku ini, yang bisa membuat kita tertegun dan terkagum.
Satu hal yang disayangkan dari buku ini adalah tidak adanya pembahasan secara spesifik -dalam sebuah bab- tentang metode dan langkah-langkah praktis dalam mencetak hafizh belia; bagaimana kiat jitu dalam mencetak anak dengan usia sebelia itu yang akhirnya mampu menghafal 30 juz Alquran. Sekalipun melaui kisah yang dibawakan itu tersirat beberapa hal yang menjadi “rahasia” sukses dalam mencetak hafizh belia.
Namun tampaknya yang memang menjadi “pesan” mendasar dari buku ini adalah motivasi dan inspirasi, yang menjadi tujuan dari penulis. Yaitu agar pembaca senantiasa cinta dan akrab dengan Alquran, lebih-lebih di bulan Ramadan seperti sekarang ini. Kecintaan itu di antaranya diwujudkan dalam bentuk tadarus dan bahkan menghafal Alquran. Sebab, penulis juga menampilkan kisah para kakek dan nenek yang memiliki semangat tinggi untuk menghafal Alquran, sedangkan mereka baru memulai program menghafal itu ketika mereka sudah berstatus kakek atau bahkan sudah lansia (lanjut usia), hingga berumur 70-an tahun ke atas. Dan, dengan semangat yang luar biasa, dan karena taufik dari Allah, mereka akhirnya berhasil menjadi penghafal Alquran. Alhasil, jika di bagian awal buku ini ditampilkan sosok para hafizh paling belia, maka di bagian berikutnya dikisahkan tentang para hafizh lansia.
Hal menarik lainnya yang dibawakan oleh penulis adalah kisah-kisah unik dan ajaib dari para penghafal Alquran. Anda mungkin akan terkesima, terharu, dan tercerahkan. Ada banyak kisah yang mungkin menurut banyak orang mustahil kebenarannya, namun kisah yang dipaparkan di buku ini sungguh nyata. Di antaranya adalah kisah seorang yang terserang tumor otak (h. 107-113).
Tentu saja sangat kecil harapan baginya untuk bisa terus bertahan hidup. Ia pun memanfaatkan sisa-sisa umurnya yang diperkirakan tidak bertahan lama untuk menghafal Alquran. Dan, ketika ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Alquran, tumor otaknya hilang. Kisah di atas hanyalah salah satu kisah dari beberapa kisah ajaib dan unik dari bagian ketiga buku ini. Di antara kisah-kisah ajaib dan unik lainnya, yang merupakan karamah para huffazh, adalah: mulut menyebarkan aroma wangi kasturi, menangis karena lupa letak satu ayat, membaca Alquran saat tertidur, dan mereka yang memiliki kecepatan luar biasa dalam menghafal Alquran, serta kisah wanita yang selama 40 tahun berbicara menggunakan ayat Alquran.
Dari aspek lain, penulis juga menunjukkan kenyataan bahwa anak-anak yang aktif menghafal Alquran dan menonjol dalam hal hafalan Alquran, adalah juga mereka yang unggul prestasi di sekolahnya (h. 66-70). Mereka yang disiplin dalam menghafal Alquran adalah mereka yang juga disiplin dalam segala hal, termasuk dalam hal belajar dan mendalami mata pelajaran sekolah. Wajar jika ternyata mereka yang meraih prestasi akademik adalah yang berprestasi pula dalam hal hafalan Alquran.
Buku ini terasa akan lebih nikmat bila dibaca di bulan puasa seperti sekarang ini, di mana suasana batin kita sangat konsen terhadap segala yang bernuansa ibadah, terutama tadarus atau mambaca Alquran. Apalagi buku ini lebih kental dengan nuansa motivasi -meski “terselubung” dan jauh dari kesan menggurui-. Selamat berpuasa dan bertadarus Alquran. (Sumber: http://ramadan.detik.com/read/2012/07/29/161153/1977691/975/balita-pun-bisa-hafal-alquran).

Rabu, 05 Juni 2013

ERDOGAN

ilust_1REPUBLIKA.CO.ID, Selama berpuluh tahun boleh dikatakan tak ada pemimpin dari negara-negara Muslim berani berkata “tidak” dan mengkritik  keras pemimpin Israel. Adalah Erdogan atau Recep Tayyip Erdogan yang berani melakukannya. 
Dalam sebuah konferensi internasional di Davos, Swiss, Januari  2009,  Perdana Menteri Turki itu  berani mengkritik Israel dengan pedas dan menuding pemimpinnya sebagai pemimpin yang licik dan pembohong, serta mengatakan Perdana Menteri Israel Simon Peres membunuh anak-anak dan wanita-wanita tak berdosa di  Gaza. 
Setelah berbicara, Erdogan walk out (meninggalkan) konferensi tersebut dan seluruh dunia  menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh Erdogan. Itulah salah satu contoh keberanian Perdana Menteri Turki yang dijuluki “Singa Kecil” dari Negara Abdul Hamid II—khalifah Muslim terakhir yang memimpin Kekhalifahan Utsmaniyah.  
Politisi yang dijuluki  sebagai “Muazin Istanbul Penumbang Sekularisme Turki” ini mampu mengembalikan masa keemasan Turki. Ia sukses  mengembalikan kejayaan bangsa Turki, baik dalam hal pertahanan maupun perekonomian.
Dengan keyakinan bahwa “Islam adalah solusi”, Erdogan mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan “The Sick Man in Europe”  menjadi negara yang sehat dan tumbuh berkembang, bahkan diperhitungkan sebagai negara yang mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia.
Buku ini memberikan gambaran yang cukup lengkap dan memadai mengenai sepak terjang Erdogan. Penulis mengawali bukunya dengan mengupas riwayat kehidupan Erdogan, sejak masa kecilnya di Qasim Pasha, pernikahannya, masuk penjara, dan mendirikan partai.  
Bab kedua memaparkan jalan politik Erdogan, antara lain, reformasi politik, revolusi atas pemikiran dan politik Kemal Attaturk, perbaikan masalah ekonomi, hingga penyelesaian masalah suku Kurdi.
Pada bab ketiga penulis mengupas langkah-langkah yang ditempuh Erdogan dalam penghancuran berhala sekularisme Attaturk. Salah satu pembahasan yang menonjol dalam bab ini adalah bagaimana Erdogan mampu mengatasi dan “menjinakkan” militer. 
Bab keempat menjabarkan revolusi  yang dilakukan Erdogan. Bab kelima menyajikan kupasan bertajuk “Dari impian Eropa menuju realita”.  Salah satu yang dibahas dalam bab ini adalah hubungan diplomatik dan kerja sama Turki dengan berbagai negara Arab. 
Bab keenam bertajuk “Dari persahabatan menjadi permusuhan” menceritakan berbagai ketegangan yang terjadi antara Turki dan Israel—yang pada awalnya bersahabat—sebagai respons atas ketegasan sikap Turki. Buku ini ditutup dengan beberapa dokumen dan gambar yang memuat pesan-pesan penting Erdogan.
Apakah rahasia sukses Erdogan? “Ia selalu menyelaraskan  antara iman, akhlak Islamiyah, dan selalu mengikuti  sunah Rasulullah SAW.” 
Di tengah langkanya tokoh masa kini yang layak jadi role model seorang pemimpin Muslim yang berani, jujur, peduli rakyat, dan tetap taat beragama, Erdogan merupakan tokoh yang layak diteladani. 
Buku ini sangat perlu dibaca terutama oleh para politisi, anggota legislatif, serta para pejabat dan aktivis, untuk belajar bagaimana menjadi pemimpin yang dicintai rakyat dan memberikan solusi. Tentu saja para mahasiswa yang merupakan calon pemimpin masa depan juga perlu membaca buku ini. 
Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Irwan Kelana

IndonesiaTanpaLiberal

Indonesia Tanpa Liberal

Buku yang ditulis oleh mantan wartawan media Islam yang kini aktif sebagai dosen dan peneliti ini berupaya memberikan gambaran mengenai penyelewengan-penyelewengan pemahaman kelompok-kelompok liberal dari akidah Ahlusunnah wal Jamaah. 
Seperti diketahui, salah satu bahaya yang saat ini mengancam umat Islam, khususnya di Indonesia, adalah gerakan pemurtadan. 
Gerakan tersebut tidak hanya dilakukan oleh kelompok non-Muslim, tapi juga mereka yang mengaku Muslim, namun memiliki pemahaman dan akidah yang keluar dari prinsip-prinsip keislaman.
Penulis menegaskan, fenomena paham-paham yang merusak akidah Islam semakin marak dan berkembang di negeri ini. Mulai dari yang tidak masuk akal sampai yang seolah-olah dikemas dengan bungkus ilmiah. 
Di antara paham yang merusak itu adalah sekularisme, pluralisme, dan liberalisme yang biasa disingkat dengan sepilis. Paham ini adalah ideologi impor dari Barat yang kemudian berusaha dipasarkan dan dijajakan di negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia. Paham ini pada 2005 sudah difatwa haram oleh MUI karena bertentangan dengan akidah kaum Muslimin.
Di antara penyokong paham sepilis itu Jaringan Islam Liberal (JIL) yang meskipun jumlahnya sedikit, didukung oleh corong media nasional, dana, dan avokasi asing, bahkan alat kekuasaan. 
Dengan gaya tulisan jurnalistik yang mengalir, cair, dan mudah dipahami, penulis mengulas sepak terjang kelompok liberal, latar belakang berdiri, para aktivisnya, serta sejarah panjang kampanye pluralisme agama di nusantara yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Terutama, sejak orang-orang Eropa datang ke negeri ini bersamaan dengan kolonialisme yang kemudian memasarkan humanisme.
Judul bab-bab buku ini sangat menggoda. Sebut saja, fron liberal dari Utan Kayu, tersesat di jalur liberal, Ulil Abshar Abdalla dan doktrin Freemason, serta in Israel we trust. Bab-bab lainnya adalah JIL dan teosofi, para pionir pluralisme dan idola kaum liberal, dan Indonesia tanpa liberal yang dijadikan judul buku ini.
Masih ada sejumlah bab yang juga menggugah rasa ingin tahu pembaca, seperti Ahmadiyah proyek zionisme, zionisme dan propaganda adu domba, freemason di balik runtuhnya Khilafah Usmaniah, pengkhianatan kelompok sekuler menghapus Piagam Jakarta, pluralisme agama, Kartini dan para sahabat Yahudi.
Buku ini ditutup dengan pembahasan yang ringkas, namun padat tentang propaganda pluralisme agama di nusantara dan kaum teosofi. 
Note: Resensi buku ini dimuat di HU.Republika edisi 24 Juli 2012 dan Republika Online (ROL)

Mendidik Anak Bersama Nabi




penerbit Pustaka Arafah
imprint Pustaka Arafah
penulis Muhammad Suwaid
ukuran 15,5 x 24 cm
tebal 608 hlm
viewed 901
harga Rp. 125.000 ,-

Banyak orang tua yang kebingungan tentang cara mendidik anaknya. Kebanyakan dari mereka hanya mengalir, mengikuti berjalannya waktu. Sehingga saat sang anak menginjak usia remaja, kenakalan mereka membuahkan rasa sakit tersendiri bagi orang tuanya. Buku ini dapat membantu Anda menangani masalah pendidikan anak tersebut. Berisi rahasia metode pendidikan anak cara Nabi. Bersumber dari beberapa Al-Qur\\\'an dan As-Sunnah, yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

VARIASI BACAAN DALAM SHALAT


Penerbit Pustaka Arafah
Imprint Media Zikir
Penulis Dewan Kitabah Media Zikir
ukuran 15,5 x 24 cm
tebal 272 hlm
harga Rp. 42.500 ,-

Salah satu faktor pembuat bosan adalah kebiasaan yang berulang-ulang, monoton dan statis. Apapun itu, tak terkecuali dalam hal shalat!
Bacaan yang berulang-ulang selama bertahun-tahun bisa jadi juga menjadi penyebab shalat kita terasa hambar tanpa makna. Bahkan, parahnya lagi jika kita sudah tidak menyadari apa yang dia baca. Jika demikian maka khusyuk yang merupakan kenikmatan luar biasa dalam shalat akan sulit diraih.
Padahal sebenarnya Rasulullah telah mengajarkan beberapa pilihan bacaan dalam shalat. Variasi bacaan mulai dari takbiratul ihram hingga salam. Maka dari itu mengetahui beberapa variasi bacaan dalam shalat menjadi sangat penting.
Dalam buku ini akan Anda dapatkan variasi bacaan tersebut, di antaranya:
- Variasi bacaan takbiratul ihram
- Variasi bacaan doa iftitah
- Variasi bacaan Al-Fatihah
- Variasi bacaan surat pendek
- Variasi bacaan rukuk, sujud, tasyahud hingga salam
Variasi bacaan tersebut seluruhnya berasal dari dalil yang shahih, sehingga kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Selasa, 04 Juni 2013

RIHLAH IBNU BATHUTHAH Memoar Perjalanan Keliling Dunia di Abad Pertengahan

Penulis: Muh. Abdullah bin Bathuthah
  Penerbit: Pustaka Al-Kautsar
  Isi:  610 hal. HVS, Hard cover
  Ukuran: 15,5 x 24,5 cm
  Harga resmi:  Rp 110.000,-  


SINOPSIS:

Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Bathuthah adalah seorang pengembara (traveler), petualang (adventure), dan pengamat (viewer) yang membuat catatan harian tentang negeri-negeri yang ia kunjungi dalam pengembaraannya. Catatan perjalanan yang dikenal dengan buku "Rihlah Ibnu Bathuthah" ini ditulis setelah dirinya mengunjungi berbagai belahan dunia, kemudian mengamati kebudayaan, adat istiadat, dan perilaku masyarakat di negeri-negeri yang ia kunjungi, terutama wilayah yang dipimpin oleh kesultanan Islam.


Banyak kisah menarik yang diceritakan dalam buku catatan perjalanan Ibnu Bathuthah ini, terutama cerita-cerita tentang para sultan, para syaikh, sejarah sebuah negeri, falsafah kehidupan masyarakat setempat dan lain sebagainya yang ia tulis berdasarkan pengamatan langsung dari negeri-negeri yang ia kunjungi. Dari India sampai negeri Cina, dari Afrika sampai Nusantara, Ibnu Bathuthah menceritakan perjalanannya secara apik dan mengesankan. Ia misalnya, menceritakan kunjungannya bertemu dengan Sultan Jawa (Sultan Nusantara) dari Kerajaan Samudera Pasai, Sultan Malik Az-Zhahir.


Ibnu Bathuthah sendiri menyebut hasil karyanya ini sebagai persembahan seorang pengamat tentang kota-kota asing dalam perjalanan yang menakjubkan, yang ia tuangkan dalam sebuah catatan perjalanan. Sebagai sebuah catatan perjalanan membaca buku ini seperti mendengarkan seorang pemandu wisata (guide tour) bercerita tentang negeri-negeri yang menakjubkan dari segala sisi. Pembaca seolah diajak berkelana menyusuri negeri-negeri yang ia kunjungi, kemudian memetik hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian dalam perjalanan.


Ibnu Bathuthah berhasil merangkai sebuah catatan perjalanan sebagai karya sejarah bermutu tinggi, yang bisa dijadikan rujukan bagi mereka yang ingin mengetahui sejarah sebuah bangsa dan peradaban manusia.
 






Penciptaan Alam Semesta dalam Al Qur’an dan Sains

Penciptaan alam semesta